Blog Post

PP. NURUL HUDA > News > Wahidiyah > Gema Nida di Ujung Ramadhan: Cahaya Wahidiyah dari Bumi Sumenep

Gema Nida di Ujung Ramadhan: Cahaya Wahidiyah dari Bumi Sumenep

Tujuh belas malam meniti jalan wushul, para salik Wahidiyah mengakhiri i’tikaf ilmiah mereka dalam dekapan doa. Sebuah perjalanan batin dari syariat menuju hakikat, ditutup dengan tangis khouf dan optimisme roja’ di bawah langit Nuzulul Qur’an.

SUMENEP — Jam menunjukkan pukul 20.30 WIB ketika pelataran asrama mulai disesaki lambaian sarung dan mukena putih. Malam itu, 9 Maret 2026—bertepatan dengan 20 Ramadhan 1447 H—udara Sumenep terasa lebih khidmat. Aroma harum dupa dan gumam selawat menyatu, menandai pungkasan dari perjalanan spiritual 17 hari yang melelahkan namun merindukan: Asrama Ramadhan Wahidiyah.

Sejak hari ketiga puasa, asrama ini bukan sekadar tempat menginap. Ia adalah kawah candradimuka bagi para jamaah untuk membedah instrumen batin. Di bawah komando panitia yang digawangi Ustaz Anwari dan sekretaris Ustaz Khoiruttamam, para peserta menyelami samudera ajaran Lillah Billah hingga peliknya diskusi filosofis tentang Wahdatul Wujud.

“Ini bukan sekadar mengaji, ini adalah laku membersihkan karat di hati,” ujar salah satu jamaah yang datang jauh-jauh dari pelosok kabupaten.

Titik Balik di Malam Nuzulul Qur’an

Acara penutupan malam itu dibuka dengan sambutan dari Ketua Jamaah Wahidiyah Kabupaten Sumenep, K. MG. Ma’ruf. Dengan nada yang rendah namun berwibawa, beliau mengingatkan kembali pentingnya menjaga momentum perjuangan dan pembinaan yang telah dipupuk selama belasan hari di asrama.

Kekhidmatan semakin memuncak saat K. Najib Asyrof Imtiyaz Madjid, S.Ag naik ke podium untuk memberikan Kuliah Wahidiyah. Ia membedah kembali rangkaian materi yang telah dilalui peserta: mulai dari Trilogi Islam hingga adab bermujahadah. Baginya, pemahaman tentang Syariat, Thoriqoh, Haqiqoh, hingga Ma’rifah adalah satu kesatuan Islam Kaffah yang tak boleh dipisahkan.

“Ilmu tanpa mujahadah adalah pohon tanpa buah, dan mujahadah tanpa adab adalah raga tanpa jiwa,” pesannya di hadapan ratusan pasang mata yang menyimak tanpa kedip.

Fatwa Amanah dari Sang Putri Muallif

Puncak spiritualitas malam itu baru benar-benar terasa saat Nyai Hj. Husnatun Nihayah Madjid berdiri. Sebagai putri dari Muallif (Pencipta) Sholawat Wahidiyah, kehadirannya membawa magnet tersendiri. Dalam Fatwa Amanah-nya, Nyai Husnatun tidak banyak bicara soal teori. Beliau lebih banyak mengetuk pintu rasa.

Beliau menekankan pentingnya Mahabbah (cinta) dan Ta’alluq (ikatan batin) kepada Baginda Nabi SAW. Suasana berubah haru saat beliau menyinggung hal Roja’ (harapan) dan Khouf (rasa takut) yang diwujudkan dalam tangis pertobatan. Di bawah pendar lampu asrama, terlihat beberapa jamaah menyeka air mata saat diingatkan kembali tentang pentingnya Nida’ empat penjuru sebagai bentuk seruan kasih sayang kepada alam semesta.

Sesuai tradisi Wahidiyah, acara tak lengkap tanpa Mujahadah yang menggetarkan. Istighatsah, Tawassul, dan Ghoutsiyyah dilantunkan dengan nada yang mengiris kalbu, sebuah upaya kolektif untuk “mengetuk pintu langit” di malam yang diyakini penuh keberkahan Nuzulul Qur’an tersebut.

Konsistensi di Balik Layar

Di balik suksesnya acara yang berlangsung hingga pukul 23.30 WIB ini, ada kerja keras tim kurator spiritual yang solid. Berbeda dengan malam-malam sebelumnya yang hanya diikuti peserta tetap asrama, malam penutupan ini menjadi ajang “reuni batin” bagi jamaah Wahidiyah se-Kabupaten Sumenep. Mereka datang dari Saronggi, Bluto, Rubaru, Dasuk, Lenteng hingga Pragaan, memenuhi setiap sudut ruang demi mereguk sisa-sisa keberkahan asrama.

Saat lampu-lampu asrama mulai dipadamkan menjelang tengah malam, para jamaah pulang dengan satu janji yang dibawa dalam saku sanubari: mempraktikkan Lillah Billah di tengah hiruk-pikuk dunia yang kian bising. Bagi mereka, Ramadhan 1447 H kali ini bukan sekadar menahan lapar, tapi tentang bagaimana kembali pulang kepada Sang Khaliq dengan hati yang lebih “jernih”.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *