Suasana di koridor Madrasah Aliyah (MA) Nurul Huda Talang, Saronggi, Sumenep, tampak berbeda dari biasanya. Mulai tanggal 2 hingga 12 Juni 2026, riuh rendah obrolan santai siswa berganti menjadi deru kesibukan yang khidmat. Madrasah yang dikepalai oleh KM. Ghozali Ma’ruf, M.Psi ini sedang menggelar Asesmen Sumatif Akhir Tahun (ASAT) untuk Tahun Ajaran 2025-2026.
Tidak ada layar gawai atau komputer yang menyala di dalam kelas. Pihak madrasah memilih pelaksanaan ujian berbasis kertas dan pensil untuk mengevaluasi kompetensi para siswanya. Di tengah gempuran digitalisasi, gesekan pensil di atas lembar jawaban justru menghadirkan atmosfer klasik yang penuh konsentrasi.
Sekat Ruang dan Esensi Nilai
Panitia membagi ruang ujian secara tegas demi menjaga kondusivitas. Pelaksanaan ASAT menempati dua ruang utama, yaitu ruang 103 khusus untuk siswa dan ruang 104 untuk siswi. Pemisahan ini berlaku bagi seluruh peserta, baik dari kelas X maupun kelas XI MA Nurul Huda Talang. Meski berada di ruang yang berbeda, keseriusan mengejar tenggat waktu pengerjaan soal terasa sama kuatnya.
Namun, bagi KM. Ghozali Ma’ruf, momentum tahunan ini bukan sekadar urusan angka-angka di atas rapor. Saat membuka agenda ASAT pekan lalu, sang kepala madrasah memberikan wejangan mendalam yang menembus batas ruang ujian.
"Ujian itu tak sekadar nilai. Ujian sebenarnya adalah ketika kalian sedang tidak dalam ujian seperti ASAT ini. Tetapi bagaimana memanfaatkan waktu sebaik mungkin di luar ujian ASAT, agar belajar bukan karena ujian," ujar kepala di hadapan para peserta. Pesan itu menjadi pembeda. Di ujung tahun ajaran 2025-2026 ini, lembaran kertas dan goresan pensil di MA Nurul Huda Talang bukan lagi momok yang menakutkan, melainkan sebuah halte kecil dari proses belajar panjang yang sesungguhnya.